Media Jihad Indonesia

Ku Pinang kau dengan ayat Al Qur’an

  • Reporter:
  • Sabtu, 11 Juni 2016 | 03:05
  • / 5 Ramadhan 1437
  • Dibaca : 701 kali
Ku Pinang kau dengan ayat Al Qur’an

masihwan.com – Sudah menjadi tradisi bahwa acara pernikahan merupakan ritual yang mahal. Bagaimana tidak, didaerah manapun di Indonesia ini acara pernikahan membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Ini terjadi karena didalam acara pernikahan ada salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mempelai laki-laki yaitu Mahar. Mahar merupakan salah satu hak yang harus dipenuhi karena itu merupakan hak perempuan dari pasangannya.

Mahar merupakan salah satu syarat pernikahan walaupun itu hanya seperangkat alat sholat saja. Alloh berfirman :       وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً    ” Berikanlah mahar mas kawin kepada wanita (yang kamu nikahi) dengan penuh kerelaan “.  {QS Annisa ayait 4 }.  A

Akan menjadi masalah jika mahar itu tidak dipenuhi atau tidak diterima oleh mempelai wanita maka tidak sah pernikahannya. Mahar adalah wajib dan itu tidak harus merupakan barang berharga atau mahal.  Bahkan dengan mahar sepenggal ayat dari Al Qur’an pun sudah sah pernikahannya.  Pandangan para ahli Fiqh pun sepakat bahwa apapun itu kalau sudah menjadi niatan untuk mahar maka sah pernikahannya.  Sepakat ulama Hanafiyah dan Malikiyah dalam pendapat mereka yang masyhur, juga salah satu pendapat dari Imam Ahmad, menyatakan tidak bolehnya menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai mahar untuk perempuan. Karena kemaluan wanita barulah halal jika mahar berupa harta. Allah Ta’ala berfirman,

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina” (QS. An Nisa’: 24).

Maka hafalan Qur’an tersebut hanya jadi bentuk taqarrub (ibadah) bagi yang menghafalkannya. Sedangkan ulama Syafi’iyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah yang menyelisihi pendapat yang masyhur, mereka menyatakan bolehnya menjadikan hafalan Qur’an sebagai mahar bagi perempuan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahkan seorang wanita dengan pria dengan mahar hafalan Al Qur’an yang ia miliki.

Ada percakan yang sangat menarik tentang masalah mahar dengan ayat suci Alqur’an ini. Riwayat ini diambil dari hadist Bukhori ….    dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang menawarkan untuk dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak tertarik dengannya. Hingga ada salah seorang lelaki yang hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”

“Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.” Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”

“Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan jika dia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu.”

Laki-laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?

“Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya. “Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Iya,” jawabnya. “Bila demikian, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 1425)

Dari uraian diatas jelas bahwa mahar merupakan kewajiban dan syarat sah dalam acara pernikahan. Mahar dalam bentuk setoran ataupun bacaan ayat suci Al Qur’an dibolehkan asal dengan niat yang baik dan sudah dalam keadaan tidak mempunyai harta ataupun barang berharga yang dipunyainya.

(selesai) mir

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 masihwan.com

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional