Media Jihad Indonesia

Agenda terselubung Pasca Ahok menjadi tersangka

  • Reporter:
  • Kamis, 17 November 2016 | 02:19
  • / 16 Safar 1438
  • Dibaca : 340 kali
Agenda terselubung Pasca Ahok menjadi tersangka

masihwan.com  –  Ahok sudah ditetapkan Kapolri menjadi tersangka penistaan Agama Islam. Hal ini masih banyak menjadi pembicaraan masyarakat Indonesia baik yang pro ahok maupun yang anti ahok.

Berikut ini analisa “Playing Victim” oleh DR Iswandi Syahputra (pengamat Media UIN Sunan Kalijaga Yogjakarta)

Paling tidak ada tiga fenomena yang saya amati setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka.
PERTAMA, perang hestek di media sosial antara #KamiAhok dan #PenjarakanAhok. Bisa diduga, yang menang perang hestek tersebut #KamiAhok. Mengapa? Karena kubu pro Ahok memiliki banyak robot-robot virtual yang bisa digerakkan secara otomatis untuk mengangkat sebuah topik perbincangan di media sosial menjadi viral.

Faktanya, saat melakukan aksi lapangan jumlahnya cuma puluhan atau cuma ratusan. Hal ini tidak penting, bagi saya ini cuma memanupulasi politik di ruang virtual. Mencari kenikmatan semu, abaikan tetapi harus tetap disadari ini realitas palsu. Jangan mudah terkecoh…!

KEDUA, membangun citra Ahok adalah korban, istilahnya adalah playing victim. Arahnya jelas, meletakkan Ahok sebagai korban yang dizolimi untuk mendulang simpati agar saat Pilkada Ahok meraih kemenangan satu putaran. Menurut saya, hal kedua ini bukan berdiri sendiri atau terpisah, tapi bagian dari gerakan yang terlihat sistematis.

Bila hal pertama operasi udara, maka hal kedua operasi darat untuk ‘menduduki’ dan ‘memaksa’ perasaan atau opini publik berpihak pada Ahok. Untuk menunjang operasi darat ini, sejumlah pemain figuran ditampilkan. Adalah sopir taksi pakai kopiah (simbol Islam) yang menangis meratap sedih Ahok jadi tersangka, ada pula emak-emak berjilbab (simbol Islam) yang memeluk Ahok dengan erat, terharu.

Bagi yang paham drama politik, mudah sekali membaca realitas itu sebagai stimulator untuk merangsang simpati publik. Sasarannya jelas, muslim kaum miskin kota yang memiliki suara mayoritas.

KETIGA, menghadapkan Ahok head to head dengan Habib Rizieq. Hal ini saya baca sebagai bentuk ‘serangan’ untuk memecah konsentrasi semakin terkonsolidasinya kekuatan politik umat muslim. Dengan menghadapkan Ahok head to head dengan Habib Rizieq, Ahok sebenarnya sedang ‘berbicara’ pada kaum muslim Abangan yang lebih modern, urban, toleran, moderat bahkan liberal yang jumlahnya lebih besar dari kaum muslim fundamental.

Dalam konteks tersebut, di mata muslim Abangan, tentu Ahok akan lebih dinilai positif di banding Habib Rizieq yang oleh mereka dinilai memiliki rekam jejak negatif. Di saat bersamaan, berbagai rekaman ceramah Habib Rizieq yang bernada provokasi disebarkan. Umat muslim yang semula mendukung dibuat menjadi ragu-ragu.

Jika tiga skenario ini berjalan, Insya Allah Ahok akan memenangkan Pilkada DKI dalam satu putaran. Kalau Ahok yang terpilih menjadi Gubernur DKI jangan rusuh ya, kita harus belajar politik sehat. Cukuplah pemilihan Presiden AS saja yang rusuh.

Sebaliknya, jika Ahok belum ditakdirkan memenangkan Pilkada DKI, akan lebih elok jika Ahok lega dan ikhlas. Masih banyak daerah lain yang kabarnya menginginkan Ahok sebagai Gubernur. Ahok bisa mengadu nasib di Pilkada daerah lain atau mungkin memang kelas Ahok adalah Presiden atau Wakil Presiden RI, semua masih misteri…!

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 masihwan.com

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional