Media Jihad Indonesia

Historical masyarakat Myanmar (sejarah muslim di negara mynmar)

  • Reporter:
  • Rabu, 13 September 2017 | 14:29
  • / 21 Djulhijjah 1438
  • Dibaca : 373 kali
Historical masyarakat Myanmar (sejarah muslim di negara mynmar)

masihwan.com – Negara Myanmar yang menjangkau kemerdekaan-nya dari Inggris tahun 1948. Beberapa kali merasakan gelombang protes, yang diakibatkan oleh ketidak-adilan. yang membuat luka yang mendalam pada sejumlah kelompok perlawanan, yang antara beda mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM). Meskipun akar permasalahannya ialah ketidakadilan yang dialami oleh beberapa besar kumpulan etnis, yang merasa dizalimi oleh sekelompok etnis yang berpengaruhi negara tersebut (Etnis Burma) yang mendominasi di Myanmar, sebab di samping jumlah mereka yang lebih daripada kelompok-kelompok etnis yang lain, sudah menguasai sekian banyak bidang kehidupan di negara itu. Dan pada akhirnya, secara politis, mereka juga mendominasi.

Dominasi kumpulan etnis Burma, yang pada lazimnya beragama Budha terhadap kumpulan etnis yang lain, telah mencetuskan praktik-politik yang dialami sebagai suatu ketidakadilan oleh kelompok-kelompok etnis yang lain, tergolong di dalamnya kumpulan etnis-Muslim yang menduduki posisi minoritas. Berbagai kepandaian yang tidak adil itulah yang lantas ditengarai sebagai karena utama yang merangsang perpecahan di Myanmar, yang sampai kini tak kunjung usai. Islam di Myanmar tergolong agama minoritas, dengan persentase selama 4% dari jumlah warga di semua Myanmar. Walupun pemeluk agama Islam minoritas, namun mereka mepunyai pengaruh di sekian banyak  bidang. Hal ini terbukti dengan banyaknya jabatan urgen di pemerintahan yang diduduki oleh orang Islam. Mereka juga tidak sedikit menguasai bidang perdagangan, diplomatik, administrasi, politik, bahasa, dan budaya. Masyarakat Myanmar dipecah menurut hal etnis, laksana Burma, Shan, Karen, Rakhine, Kayah, India dan Mon. Pembagian tersebut pun berlaku dalam masyarakat Muslim, terdapat Muslim Burma atau Zerbadee, Muslim keturunan India, Muslim Hui-Hui atau Panthay dan Muslim Rohingya. Namun pada lazimnya* masyarakat Muslim di Myanmar terbagi menjadi tiga komunitas yang berbeda, yaitu: Muslim Burma atau Zerbadee Muslim India Muslim Rohingya.

Masing-masing komunitas mempunyai hubungan yang berbeda-beda dengan masyarakat Budha dan pemerintah. Komunitas kesatu, Muslim Burma, adalah komunitas yang terbentuk sangat awal. Mereka terbentuk dari distrik* Sweebo di dataran tengah dekat ibu kota pra kolonial kerajaan Burma. Komunitas ini bisa* dirunut asal usulnya sampai* abad ke 13 dan ke 14, saat* nenek moyang mereka datang ke negara tersebut* sebagai penolong* istana, tentara sewaan dan saudagar* dari Barat. Pada 1930-an, Muslim Burma yang berasimilasi dengan baik ini jumlahnya diadukan* kurang dari sepertiga komunitas Muslim.

Komunitas kedua, Muslim India, adalah*komunitas Muslim yang terbentuk seiring kolonisasi Burma oleh Inggris pada abad ke 19. Pada 1886 hingga* 1937, Burma dijadikan sebagai unsur* dari provinsi India oleh Inggris. Oleh sebab* itu, tidak sedikit* imigran dari India ke Burma. Pemerintah Inggris paling* berperan atas datangnya kaum Muslim India ini. Mereka berdomisili di provinsi Arakan dan Tenasserim. Kedatangan arus imigran yang paling* besar ke Myanmar ini mengakibatkan* munculnya masalah sosial, politik dan ekonomi.

Penyebab Muslim India tidak sedikit* berdatangan ke Myanmar, sebab* kebutuhan pemerintah Myanmar terhadap sumber daya insan* dan evaluasi* subyektif Inggris mengenai* imigran India yang lebih adaptif dan mandiri. Di Myanmar, muslim India masih menjaga* hubungan erat dengan praktek-praktek religius dan kultural dari tanah asal mereka. Hal ini sering menciptakan* mereka berselisih dengan beberapa* besar* Budha tentang* masalah-masalah perkawinan dan hukum kepemilikan serta peran Islam dalam kehidupan politik Myanmar.

Komunitas Muslim di Myanmar yang ketiga ialah* Rohingya yang tinggal* di wilayah* Arakan atau Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh. Sebelum 1784, walaupun penguasanya menggunakan emblem* Islam, Arakan merupakn suatu* kerajaan Budha merdeka. Akan namun* kerajaan Budha itu* dihancurkan oleh tentara Myanmar. Kedudukannya melemah disebabkan* oleh bangkitnya kekuatan Myanmar di unsur* timur. Arakan lantas* di masukkan menjadi unsur* dalam Burma oleh Inggris. Sejak saat tersebut* Arakan ditemui* oleh sebanyak* besar imigran dari Chittagong (Bengal). Proporsi terbesar kaum Muslim Myanmar ialah* keturunan Bengal dan mayoritas* mereka bermukim* di negara unsur* Arakan. Arakan merupakan wilayah* yang di diami oleh dua komunitas etnis, Budha Arakan atau Rakhaing dan Muslim rohingya. Rakhaing menduduki* wilayah Arakan selatan, sementara* Muslim Rohingya bermukim* di Arakan Utara, khususnya* di wilayah* Buthidaung dan Maungdaw.

Setelah Burma merdeka pada tahun 1948, ketiga muslim di atas mempunyai* peran yang berbeda. Muslim Burma mendapat lokasi* di pemerintahan U Nu. Sebaliknya kaum Muslim India, yang lebih berpandangan terbit* dan berorientasi pada perdagangan, merasakan* masa hidup yang lebih sulit sesudah* kemerdekaan. Menjelang September 1964, selama* 100 ribu orang India terpakasa me*sti meninggalkan Myanmar dampak* kebijakan nasionalisasi dan birokratisasi yang di jalankan Ne Win.

Akan tetapi, bila dikomparasikan* dengan Muslim Burma dan Muslim India, status* Muslim Rohingya yang sangat* sulit. Mereka adalah*komunitas yang sangat* miskin, yang sedang di* Myanmar. Mereka selalu ditampik* status kewarganegaraannya, juga sekian banyak * akses sekolah dan lokasi* tinggal* sakit. Di samping* itu, mereka pun* disulitkan oleh peperangan, dislokasi, dan perselisihan. Sehingga mereka terusir di sejumlah* negara sebagai kumpulan* pengugsi dan manusia-perahu. Mereka antara beda* tersebar menjadi pendatang binal* di Thailand, Srilanka bahkan ada beberapa* dari kumpulan* mereka yang ‘terdampar’ di Aceh (Indonesia) sebagai kumpulan* manusia-perahu. Etnis Rohingya walau* sudah puluhan tahun menetap di perbatasan Myanmar-Bangladesh, tidak tidak cukup* dari 800.000 penduduk* Rohingya tetap berstatus Stateless (tak bernegara).

Sebelum angkatan bersenjata Burma memungut* alih negara tersebut* pada 1962 dan memutuskan* cap sosialismenya, Muslim menyatu dengan penduduk. Mereka sedang di* posisi-posisi puncak di ketentaraan dan pemerintahan (misalnya, Haji M.A.Rachid, sekali menjadi menteri pusat Burma). Ada dua hakim Muslim di pengadilan tinggi dan terdapat* empat Muslim menjadi menteri di satu atau beda* waktu (1930-an).

Ketika junta militer memungut* alih dominasi* pada 1962, nasib mereka jadi nestapa. Di bawah dominasi* junta milter, melewati* Undang-Undang Kewarganegaraan 1982, etnis Rohingya dirasakan* imigran ilegal asal Bangladesh sampai-sampai* mereka diberi kedudukan* warga tanpa kewarganegaraan. Berdasar sumber hukum itu, Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai satu salah satu* 137 etnis negara ini. Akibatnya, mereka kehilangan hak-haknya di tengah beberapa* besar* kaum Buddhis, sampai-sampai* junta militer dapat beraksi* sewenang-wenang.

Selama tiga dasawarsa* terakhir, etnis Rohingya menjadi korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), laksana* pembersihan etnis, pembunuhan, pemerkosaan, dan pengusiran dari lokasi* tinggal. Pemerintah pun* sering kali dengan gampang* menjadikan mereka sebagai domba* hitam sekian banyak * persoalan, laksana* separatisme, pemberontakan, saudagar* dan pemasok obat bius, dan lain-lain. Mereka tidak memiliki kemerdekaan* mengakses layanan kesehatan, merasakan* bangku sekolah, mencukupi keperluan* pangan, berpartisipasi dalam kehidupan politik, dan menjalankan kegiatan* ekonomi. Suara mereka benar-benar dibungkam oleh rezim penguasa. Segala perbuatan* keji dan tidak manusiawi seharusnya tidak butuh* terjadi. Bukankah makhluk hidup dibuat* dari satu sumber? Manusia, yang adalah*salah satu bagian* yang hidup itu, juga dibuat* dari satu sumber, yaitu* thin melewati* seorang ayah dan seorang ibu, sehingga insan* harus bersebelahan* dan harmonis dengan insan* yang lain, bahkan bersebelahan* dengan alam raya.

Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), kira-kira 20.000 umat Islam Arakan sudah* dibunuh oleh rezim militer antara tahun 1962 sampai* tahun 1984. Ratusan perempuan* diperkosa dan harta benda mereka dirampas. Media komunikasi domestik* digunakan guna* menyebarkan kedustaan* dan fitnah terhadap Islam. Konvensi bangsa Rohingya, yang terbentuk pada tanggal 14-16 Mei 2004, membuka mata dunia terhadap masalah Rohingya. Konvensi yang dibuntuti* oleh organisasi-organisasi Rohingya yang terdapat* di sejumlah* negara, tidak banyak* melegakan nasib Rohingya yang tertindas puluhan tahun.

Negara Myanmar adalah*negara yang tertutup untuk* negara-negara asing khususnya* wartawan. Oleh sebab* itu, bahan kepustakaan tentang* Myanmar atau tentang* masalah yang terjadi pada minoritas Muslim Rohingya paling* sulit di temukan. Hal ini di tambah dengan suasana* geografi Arakan yang terisolir dari kota-kota di sekitarnya. Artikel atau kitab* yang ada, yang membicarakan* maslah Rohingya melulu* sedikit pembahasannya.

Dinamika kumpulan* minoritas Muslim Rohingya, masih menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan dan negara yang paling* kompleks. Fenomena dinamika minoritas masyarakat yang beragama Islam di negara Myanmar, secara umum diwarnai dengan represi, diskriminasi dan pemerasan* dari kumpulan* mayoritas dan penguasa di negara Myanmar. Hal tersebut* menyebabkan persoalan-persoalan sosial, politik dan ekonomi yang berlangsung, secara kumulatif menjadi gerakan-gerakan yang mengarah untuk* separatis.

Ditengah segala permasalahan tersebut* baik diskriminasi, kekerasan fisik, maupun desakan* moral, Muslim Rohingya sebagai insan* yang berakal berjuang* untuk mempertahankan keberadaan* diri mereka atau eksistensi* mereka. Berbagai upaya mereka tempuh laksana* : demonstrasi, negosiasi, hingga* perlawanan senjata. Namun usaha ini laksana* tidak mengindikasikan* hasil, dan tuntutan mereka terkatung-katung tanpa kejelasan. Penindasan oleh kaum beberapa* besar* Budha semakin menjadi-jadi, sampai-sampai* mereka mengerjakan* upaya terakhir dengan mengungsi atau bermigrasi secara besar-besaran ke negara tetangga terdekat untuk menggali* perlindungan. Sebagian dari mereka yang sukses* bermigrasi mendapat * perlindungan, dan beberapa* yang beda* gugur di tengah usaha mereka.

Pada pertengahan bulan Juni 2012, secara tiba-tiba perhatian dunia terfokus pada tragedi kerusuhan antar etnis yang sedang di* negara unsur* Rakhine (Arakan) barat daya Myanmar. Semula, tidak banyak* sekali masyarakat internasional yang mengusung* isu penderitaan Muslim Rohingya, yang merasakan* penindasan oleh penguasa Junta militer. Kurangnya perhatian masyarakat dunia serta ketertutupan pemerintah Myanmar terhadap dunia luar mengakibatkan* terbatasnya informasi secara mendetail* tentang Muslim Rohingya, terutama* usaha-usaha yang mereka tempuh dalam mempertahankan keberadaan* diri mereka. Oleh sebab* itu, di antara* hal yang menciptakan* penulis tertarik guna* menjadikannya sebagai topik tugas akhir penulisan skripsi, yang akan diadukan* penulis dengan judul “Muslim Rahingya di Myanmar (Sejarah Perjuangan Mempertahankan Eksistensi Diri).”

Dari pemaparan* singkat yang sudah* sampaikan, maka penulis memungut* tiga rumusan masalah sebagai berikut:

Bagaimana sejarah masuknya Islam di Myanmar?
Bagaimana kehidupan sosial (status kewarganegaraan) Muslim Rohingya?
Bagaimana perjuangan Muslim Rahingya guna* mempertahankan keberadaan* diri?

 

Dengan rumusan masalah yang sudah* disampaikan, maka riset* ini bertujuan untuk:

Mengetahui sejarah masuknya Islam di Myanmar.
Mengetahui kehidupan sosial (status kewarganegaraan) Muslim Rohingya.
Mengetahui perjuangan Muslim Rahingya guna* mempertahankan keberadaan* diri.

 

Hasil akhir dari penulisan skripsi ini diinginkan* nantinya dapat bermanfaat* untuk:

Sebagai bahan kajian atau masukan mata kuliah untuk* para mahasiswa yang menelaah* bidang studi sejarah (Islam minoritas) yang sehubungan* dengan sejarah dan kemajuan* Islam di Myanmar.
Sebagai ekstra* wawasan, referensi dan kajian selanjutnya untuk* pengembangan ilmu pengetahuan khususnya* dalam bidang ilmu sejarah.

Pendekatan dan Kerangka Teoritik

Dalam riset* ini, pengarang* akan merealisasikan* pendekatan diakronis dan sinkronis. Pendekatan diakronis dipakai* penulis untuk memahami* sejarah secara kronologi (yang bersangkutan** dengan waktu), laksana* halnya dalam karya ilmiah ini pengarang* akan mengemukakan* sejarah yang sedang di* Myanmar berdasar urutan waktu. Sedangkan dengan pendekatan sinkronis, pengarang* mempelajari suatu permasalahan* secara mendalam, dengan memakai* ilmu tolong* ilmu-ilmu sosial.

Dalam ilmu sosial ada* istilah yang dikenal dengan interaksi sosial. Bentuk-bentuk interaksi sosial bisa* berupa kerjasama, persaingan, dan bahkan, pertentangan atau konflik. Berdasarkan keterangan dari* Gilin yang dilansir* oleh Soerjono Soekanto, terdapat* dua macam proses sosial yang timbul sebagai dampak* adanya interaksi sosial. Pertama proses sosial yang asosiatif. Proses ini dipecah* dalam tiga format* khusus, yaitu: akomodasi, asimilasi dan akulturasi. Kedua proses sosial yang disosiatif, proses ini merangkum* persaingan yang mencakup* kontravensi dan konflik.

Kemudian landasan teori yang akan dipakai* penulis dalam karya ilmiah ini ialah* teori konflik dan teori pembentukan identitas. Teori konflik ialah* teori yang memandang** bahwa evolusi* sosial tidak terjadi melewati* proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa** perubahan, namun* terjadi dampak* adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang bertolak belakang* dengan situasi* semula. Sesuai dengan masalah yang diusung* dalam artikel* ini maka penulis memakai* proses disosiatif dalam format* konflik untuk meneliti* permasalahan antara Muslim Rohingya, Rakhine dan pemerintah.

Konflik mempunyai sejumlah* bentuk khusus, diantaranya konflik pribadi, konflik ras, konflik antar ruang belajar* sosial, konflik politik dan konflik internasional. Dalam penulisan ini akan dipakai* konflik rasial. Konflik rasial tidak melulu* terletak pada perbedaan fisik, namun* terletak pada kepentingan dan kebudayaan. Konflik bakal* semakin berkembang bila* diperbanyak* dengan fakta* bahwa di antara* etnis ialah* kelompok mayoritas.

Sedangkan menurut* keterangan dari* Eric A. Nordlinger, di antara* penyebab terjadinya konflik antar kumpulan* suku ialah* masalah agama. konflik ini dapat memunculkan* perpecahan. Kelompok tersebut ingin* memperlihatkan pertentangan emosional antar satu sama lain. Dalam urusan* ini perbedaan agama di Arakan yang mengakibatkan* konflik antar Muslim Rohingya dan Budha Arakan.

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini penulis memakai* teori pembentukan identitas, penulis berjuang* untuk medefinisikan dan mengenal pemilahan dan penetapan sebuah* identitas. Ada tiga komponen dasar yang akan pengarang* teliti dengan memakai* teori pembentukan identitas.

Komponen struktur sosial. Dalam kehidupan sosial tidak jarang* kali* ada pengklasifikasian sosial seseorang, ke dalam suatu kelompok* atau kelompok. Kategosrisasi sosial ialah* dasar berpijak untuk* seseorang dalam proses pengenalan identitas dan hubungan antar kelompok. Dengan Struktur sosial seseorang diklasifikasikan ke dalam kelompok* jenis kelamin, umur, warna kulit, etnik, ras, budaya, dan lain-lain.

Komponen budaya, atau tingkah laku dan konsekuensi normatif yang diterima. Komponen budaya ialah* kategori seseorang dalam kenyataannya* yang sudah dilangsungkan* terus menerus. Kategorisasi sosial belumlah dapat* memperkenalkan seseorang untuk* identitas sosial. komponen kedua ini diperlukan* untuk menyaksikan* bagaimana seseorang tersebut* bertindak, apakah memang perbuatan* yang dilaksanakan* sesuai pun* dengan norma kelompoknya. Dan pasti* saja tingkah laku bisa* mereferensikan seseorang dari kumpulan* mana dia berasal.

Definisi ontologis. Label dari kelompok* sosial tersebut* kuat tidak saja* berasal dari tingkah lakunya, tetapi pun* berasal dari teknik* anggota dari suatu kelompok* (bisa kelompok, etnik, dan lain-lain) tersebut* melihat. Komponen ketiga ini, mengupayakan* mengungkapkan orang lewat nilai alamiah orang itu* dikategorisasikan. Komponen ini juga* berangkat dari pengakuan* yang sangat fundamental* bahwa memang itulah dia, dan dia tidak dapat* menyangkal sebab* identitas ini memang mengisahkan* sesuatu mengenai* dirinya, tentang laksana* apa dirinya.

Ketiga komponen yang telah diterangkan* tersebut tidak terpisah dalam sebuah* hubungan. Bahkan mereka paling* dekat berhubungan. Hal ini justeru* adalah*kombinasi yang menyerahkan* penjelasan identitas lebih dalam dan jelas.

Penelitian Terdahulu

Dari hasil riset* skripsi yang berjudul “Muslim Rohingya di Myanmar (Perjuangan Mempertahankan Eksistensi Diri)”, belum pernah dianalisis* oleh mahasiswa sebelumnya, khususnya* Fakultas Adab pada jurusan Sejarah dan Peradaban Islam.

Negara Myanmar adalah*negara yang tertutup untuk* negara-negara asing. Oleh sebab* itu, bahan kepustakaan tentang* Myanmar atau tentang* masalah yang terjadi pada minoritas Muslim Rohingya paling* sulit di temukan. Hal ini di tambah dengan suasana* geografi Arakan yang terisolir dari kota-kota di sekitarnya. Artikel atau kitab* yang ada, yang membicarakan* maslah Rohingya melulu* sedikit pembahasannya. Seperti pada kitab* “Sejarah Dan Kebudayaan Islam Di Asia Tenggara”, karya Saifullah belum secara jelas menyatakan* tentang Minoritas Myanmar. Oleh sebab* itu, penulis berjuang* menyusun kelemahan* yang belum terdapat* pada buku-buku tersebut.

Metode Penelitian

Metode yang akan dipakai* penulis dalam riset* ini ialah* metode riset* sejarah, atau disebut pun* dengan cara* sejarah yang berarti jalan, cara, atau tuntunan* teknis dalam mengerjakan* proses penelitian. Metode sejarah dalam definisi* umum ialah* suatu investigasi* suatu permasalahn dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari pandangan historis. Metode ini pun* dapat bermanfaat* untuk mengetahui* situasi kini* dan meramalkan pertumbuhan* yang bakal* datang. Tahapan-tahapan metode riset* sejarah akan diterangkan* sebagai berikut:

Heuristik (Pengumpulan Sumber). Tahap ini pengarang* akan mengerjakan* penelitian literature dalam pendataan* sumber dalam penulisan karya ilmiah ini. Proses dalam mengerjakan* pencarian sumber-sumber melewati* buku-buku laksana* “Sejarah Dan Kebudayaan Islam Di Asia Tenggara,” majalah, artikel, mengkliping sekian banyak * macam koran (Jawa Pos) dan makalah, sumber-sumber tersebut tergolong* sumber sekunder sebab* sumber yang dikatakan* bukan saksi mata. Selain sejumlah* sumber yang telah pengarang* sebutkan, penulis pun* menggunakan cara* wawancara dengan salah seorang muslim Rohingya untuk* melengkapi pendataan* data.

Verifikasi (Kritik sumber), sesudah* data didapatkan* penulis berjuang* melakukan kritik sumber. Pada proses ini pengarang* memilah-milah sumber. Sumber-sumber yang telah pengarang* kumpulkan merupakan kitab* tentang Myanmar secara umum, maka pengarang* memilah sumber tersebut cocok* dengan tema yang bakal* ditulis, yakni* menurut* wilayah, etnis dan periode. Kritiki ini di lkukan pengarang* dengan sejumlah* cara, seperti menyaksikan* tanggal penulisan, isi, dan gaya bahasa, seruan, dan lain-lain.

Interpretasi (Penafsiran) yaitu software* beberapa teori untuk meneliti* masalah. Dalam skripsi ini pengarang* akan memakai* teori sosial (konflik) dan teori pembentukan identitas. Dengan mengguankan kedua teori tersebut, pengarang* dapat memahami* bahwa proses sosial terjadi sebagai dampak* adanya interaksi sosial. Melalui terjadinya konflik proses penyesuaian nilai-nilai dapat membawa** perubahan, yang menghasilkan kompromi-kompromi yang bertolak belakang* dengan situasi* semula. Seperti permasalahan* muslim Rohingya, dampak* adanya konflik kepandaian* yang ada bertolak belakang* dari situasi* semula, seperti kepandaian* pernikahan, ekonomi dan migrasi. Muslim Rohingya pasca konflik. Identitas pun* adalah*hal yang sangat* melekat pada diri manusia, perbedaan warna kulit, format* hidung, rambut, dan perawakan pun* menjadi urusan* yang menyebabkan* muslim Rohingya bertolak belakang* dan dipandang* etnis beda* pada permasalahan* konflik yang terjadi di Myanmar.

Historiografi (Penulisan Sejarah) ialah* tahap ini merupakan format* penulisan, deskripsi* atau pelaporan hasil riset* yang telah dilaksanakan* sebagai riset* sejarah yang menekankan aspek kronologis (menyusun kejadian yang terdapat* di Myanmar menurut* urutan waktu).

Secara garis besar kumpulan* etnis (di) Myanmar bisa* dikelompokkan dalam 8 (delapan) kumpulan* etnis:

Etnis Bamar/Burma. Beragama Buddha, menghuni mayoritas* wilayah negara, khususnya* tinggal di wilayah* lembah delta sungai Irawadi.
Etnis Karen. Suku yang beragama Buddha, Kristen atau paduannya. Memperjuangkan otonomi sekitar* 60 tahun. Menghuni pegunungan dekat perbatasan dengan Thailand.
Etnis Shan. Etnis yang beragama Buddha yang berkerabat dengan etnis Thai.
Etnis Arakan. Juga dinamakan* Rakhine, lazimnya* beragama Buddha dan bermukim* di perbukitan di Myanmar barat.
Etnis Mon. Etnis yang beragama Buddha yang menghuni area* selatan dekat perbatasan Thailand.
Etnis Kachin. Kebanyakan beragama Kristen. Mereka pun* tersebar di Cina dan India.
Etnis Chin. Kebanyakan beragama Kristen, menghuni dekat perbatasan India.
Etnis Rohingya. Etnis Muslim yang bermukim* di unsur* utara* Rakhine, tidak sedikit* yang sudah* mengungsi ke Bangladesh atau Thailand.

Secara umum terdapat* empat kelompok* kaum Muslim yang berlainan, yakni* kaum Muslim India atau Kala Pathee, Muslim Burma atau Zerbadee, Muslim Melayu atau Pashu dan Panthay atau Muslim Cina. Dilihat dari jumlahnya yang powerful* hanyalah Kala Pathee atau Muslim India dan Zerbadee. Di bidang kebudayaan kaum Muslim Burma semakin lama semakin bertolak belakang* dari orang Burma yang beragama Budha. Muslim Burma mengadopsi nama-nama Burma, meskipun mereka pun* menggunakan nama Muslim yang dapat* dipakai diwilayah mereka dalam konteks tertentu. Kaum Muslim India menghindari pemakaian* nama Muslim.

Secara politis, kaum Muslim Burma tidak jarang* kali* mempunyai* perasaan dan sikap positif terhadap negara dan siap mengidentifikasi diri mereka dengan banyak sekali* rakyat Burma. Muslim India yang bermukim* di Burma masih bersikap mendua dalam memainkan peran yang dapat* dan me*sti mereka terima di Burma dan dengan demikian ingin* muncul sebagai kumpulan* yang tidak cukup* berakar dalam masyarakat politik Burma. Terdapat tidak banyak* perbedaan spesialisasi dibidang ekonomi antara kaum muslim Burma dengan kaum Muslim India. Walaupun keduanya tidak sedikit* bergerak dibidang bisnis dan dagang, tetapi* Muslim Burma mayoritas* petani, urusan* ini sejalan dengan pola ekonomi nasional.

Sementara tersebut* kaum Muslim India di Burma lebih dikenal sebagai saudagar* yang tangguh. Mungkin karena dalil* inilah saat* sosialisme diterapkan secara kaku pada periode pasca 1962, kaum Muslim India lebih tidak sedikit* menderita dibanding kaum Muslim lainnya. Peranan mereka yang amat powerful* dibidang ekonomi dihancurkan oleh penguasa sosialis yang tidak mengizinkan* perdagangan bebas, memberi batas* arus perniagaan* internasional, mengurangi* import dan memberlakukan duit* ketat.

Di bidang pendidikan, pemerintah Myanmar menyerahkan* pendidikan dasar secara cuma-cuma* dan mempunyai* dua universitas besar, Universiatas Rangoon dan Universitas Mandalay. Sejarah menulis* bahwa sekitar* abad ke XIX negara Myanmar merasakan* tiga kali perang saudara (1824-1826,1852 dan 1895). Pada 1937, Myanmar (waktu tersebut* Burma) menemukan* pemerintahan sendiri dibawah gubernur Inggris. Uni Burma (Myanmar) menjangkau* kemerdekaanya dari Inggris pada 1948 dan mengemban* sistem politik demokrasi liberal sampai* Maret 1962, saat* terjadi kudeta militer. Sejak tersebut* Burma berada dibawah pemerintahan militer yang menjalankan dominasi* melalui partai sosialis Burma (Burma Socialist Progamme Party/ BSPP), satu-satunya partai yang diinkan hidup semenjak* 1962. Pada 1974, suatu* konstitusi baru diberlakukan dan Burma diberi nama Republik Sosialis Persatuan Burma (Socialist Republic of the Union Burma).

Pada 1948, sesudah* mendapatkan kebebasan* U Nu menjadi perdana menteri negara Burma. Oleh sebab* kegagalannya menjalankan pemerintahan, pada 1962 U-Nu digulingkan oleh jendral Ne Win. Akibatnya, mulai 1972 Burma semakin mengarah ke* pemerintahan rakyat dan semakin tertutup dengan dunia luar.

Perjuangan Myanmar pada era ini tak terlepas dari figur* yang mempunyai* nama* Aung San Suu Kyi. Aung San Suu kyi ialah* seorang aktivis prodemokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional guna* Demokrasi). Dari laporan Failed States Index tahun 2008 oleh Fund For Peace Organization dan International Crisis Group tentang* negara-negara yang dirasakan* diambang kegagalan dan memerlukan pertolongan* dari negara-negara lain. Myanmar dirasakan* gagal, di samping* karena hal* ekonomi negaranya yang paling* buruk dan rendah dikomparasikan* dengan sejumlah* negara berkembang lain terutama* di Asia, serta tidak adanya pengadilan yang independen dan junta militer menekan kegiatan* politik oposisi. Di samping* itu, pemerintah militer membatasi kegiatan* internet dan hubungan dengan dunia internasional sampai-sampai* masyarakat myanmar bisa* dikontrol oleh Junta militer. Junta Militer juga dirasakan* terlalu otoriter dan dapat mengurangi* bahkan menyengsarakan hingga* membunuh warganya sendiri laksana* gelombang demonstrasi besar pada tahun 1988.

Sejarah Masuknya Islam di Myanmar

Sejarah awal mengenai Islamisasi di Burma, terdapat dua daerah besar yang telah dapat dimasuki oleh orang-orang Arab, yakni daerah Pagan (Bagan) dan daerah Arakan, dalam beberapa tulisan mengenai sejarah awal masuknya Islam ke Burma dapat melihat dari kedua daerah ini, dimana Arakan yang berada di sepanjang timur pesisir pantai Bengal dari sungai Naf, telah lebih awal dimasuki oleh orang-orang Arab, faktor penyebanya adalah ramainya arus perdagangan yang menghubungkan antara Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Islam sampai di Myanmar melalui beberapa jalan. Para pedagang Arab menetap di garis pantai Myanmar selama abad I tahun Hijriah (abad VII Masehi), atau sesudahnya. Pada awalnya mereka menempati kawasan disekitar pantai Arakan, dan kemudian ke selatan. Lebih belakangan, para pedagang India dan Melayu telah efektif dalam menyebarkan Islam. Akhirnya, para pengungsi dari Yunnan pada abad XIX menetap dibagian Utara Myanmar.

Para pelaut Muslim, telah datang ke Burma pada abad ke sembilan. Pada tahun 860 M, para pengelana dari Cina menemukan daerah koloni Persia diperbatasan Yunnan. Pelancong dari Persia, Ibnu Khardabheh, pelancong dari Arab pada abad kesembilan, Suleiman, dan pelancong dari Persia abad kesepuluh, Ibnal Faqih, dalam tulisan-tulisan mereka menyebut Burma Selatan. Sejarawan Arab yang hidup di abad kesepuluh al Magdisi, membicarakan hubungan yang di kembangkan Burma dengan India, kepulauan Melayu, dan Srilanka. Sejarah Burma mencatat keberadaan orang-orang Arab dimasa pemerintahan Raja Anawratha ( 1044-1077) yang bekerja sebagai penunggang kuda kerajaan. Pengganti Anawratha, raja Sawlu (1077-1088) dididik oleh seorang guru Muslim berkebangsaan Arab dan mengangkat anak sang guru, Yaman Khan sebagai gubernur kota Ussa, yang sekarang bernama Pegu. Sebuah konspirasi di lingkungan istana membuat Yaman Khan memberontak. Usahanya untuk menguasai Pagan digagalkan oleh Kyanzittha, saudara Sawlu, yang memperkenalkan suatu perkampungan Muslim di pedalaman Burma lewat tawanan-tawanan Muslim asal India. Di abad ketiga belas, ketika pasukan Kubilai Khan yang didominasi oleh tentara-tentara Muslim, dibawah pimpinan Nasruddin, anak gubernur Yunnan, menyerang daerah Pagan, keberadaan mereka di Burma kembali terasa.

Suatu negara Islam didirikan di Arakan, ketika Sultan Bengal yang beragama Islam Naseeruddin Mahmud Syah (1442-1459), membantu raja Sulayman Naramitha membangun negara Islam. Pemerintahan Muslim berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas ke Selatan hingga mencapai Moulmein pada masa pemerintahan sultan Salim Syah Rasagri (1593-1612 M). Bahasa Persia merupakan bahasa resmi bagi negara islam Arakan yang beribukota di Myohaung. Pada tahun 1784, Burman Raja Bodawpaya menaklukkan dan menguasai Arakan, memicu perang gerilya panjang yang dilakukan oleh tentara Burman, diduga menewaskan lebih dari 200.000 Arakan dan diminta kerja paksa untuk membangun Candi Budha. Upaya gagal pada tahun 1796 untuk menggulingkan pemerintahan Burman mengakibatkan hampir dua-pertiga penduduk muslim Arakan pergi ke daerah Chittagong. Pada tahun berikutnya antara 1824 dan 1826 oleh pendudukan Inggris. Ketika Burma merdeka pada tahun 1948, Arakan dimasukkan kedalam negara Burma.

Pada masa kekuasaan perdagangan Muslim di Asia Tenggara mencapai puncaknya hingga sekitar abad ketujuh belas, kota-kota di pesisir Burma, lewat koneksi kaum Muslim, masuk kedalam jaringan dagang kaum Muslim yang lebih luas. Bahkan ketika dominasi kaum Muslim dibidang perdagangan mulai surut, sebelum akhirnya hancur dibawah tekanan luar sebagai akibat perubahan konstelasi politik internasional yang muncul dari rivalnya Eropa, kaum Muslim tetap memainkan peran penting dikawasan ini. Mereka tidak hanya aktif dibidang perdagangan, melainkan juga dalam pembuatan dan perawatan kapal. Suatu ketika di abad ketujuh belas sebagian propinsi yang terletak di jalur perdagangan dari Mergui ke Ayutthaya praktis dipimpin oleh gubernur Muslim dengan para administratur tingginya juga Muslim. Sejak abad kelima belas hingga pertengahan abad kedelapan belas, tentara kerajaan Burma memasukkan kaum Muslim dalam unit pegawai kerajaan sebagai pasukan artileri dan pasukan penembak. Selama pemerintahan raja Pagan-Min (1846-1853), seorang Muslim diangkat menjadi gubernur Amarapura, ibukota kerajaan pada waktu itu, yang memporoleh wewenang luas yang diberikan oleh raja. Ditahun 1855, gubernur Pagan juga seorang Muslim.

Di wilayah Arakan, mungkin karena faktor kedekatan geografis dengan India, terjalinlah hubungan diplomatik, politik, perdagangan, budaya, dan individu antara kerajaan Arakan dengan India. Pengaruh Muslim sangat kentara di kawasan ini sehingga raja Arakan yang beragama Budha sekalipun menggunakan nama dan gelar Islam. Meskipun kerajaan ini beragama Budha, namun orang-orang Islam di angkat untuk menduduki posisi-posisi penting. Sejak abad kelima belas hingga abad enam belas, sejarah Arakan semakin berorientasi kepada kerajaan Moghul India. Sejak sekitar pertengahan abad ke tujuh belas hingga tahun 1785, ketika Arakan kembali dianeksasi oleh Burma, posisi kaum Muslim di Arakan dibawah kepemimpinan orang-orang Kaman tidak tergoyahkan.

Kejatuhan kesultanan Yunnan dibawah pemerintahan Sultan Sulaiman tahun 1873 ke tangan tentara kekaisaran Cina, mendorong munculnya gelombang baru Muslim Cina kebagian utara Burma mencari suaka politik. Diawal abad kedelapan belas dan kesembilan belas, di beberapa kota Burma jumlah orang-orang Islam patut diperhitungkan. Mereka terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan dibawah hak patronase orang-orang Burma hingga saat terahir jatuhnya kerjaan Burma di Mandalay tahun 1885. Mereka ternyata dikenal juga termasuk diantara kelompok-kelompok oposan yang paling vokal menentang kedatangan kolonial Inggris di Burma, bahkan tidak hanya sekedar menolak secara politik, ekonomi maupun diplomasi melainkan juga dalam kekuatan militer ketika tentara Inggris dipaksa keluar dari Burma.

Pendudukan Inggris atas Burma telah mendorong kedatangan para imigran kaum Muslim dari India, yang didorong keinginan untuk mendapatkan penghidupan dan lapangan kerja baru diwilayah itu. Kaum Muslim dari India, sebagaimana saudara-saudara mereka yang beragama Hindu, bekerja di Burma sebagai pegawai pemerintahan, buruh, tukang, polisi, pembuat sepatu, tentara juga sebagai pedagang. Dalam prakteknya, tidak ada departemen dari pemerintahan baru yang berdiri tanpa keterlibatan orang-orang India. Adapula sebuah departemen yang stafnya hanya terdiri dari orang-orang India. Memasuki abad kedua puluh, setengah penduduk Rangon adalah orang India, yang sebagianya adalah Muslim.

 

Disadur dari : www.galeribudaya.com

 

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 masihwan.com

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional